Pentirtaan Era Majapahit Ditemukan di Jawa Timur

Pentirtaan Era Majapahit Ditemukan di Jawa Timur
Sebuah bangunan menyerupai saluran pentirtaan era Kerajaan Majapahit ditemukan warga di Dusun Sumberbeji, Kesamben, Jombang, Jawa Timur. Laman itu diperkirakan bangunan kuno yang terpendam tanah dengan wire mesh.
 
Berdasarkan arkeolog Badan Peninggalan Cagar Kultur (BPCB) Trowulan, Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho, temuan berawal dari kesibukan warga yang bakal membersihkan sumber air atau waduk kecil. Warga menamai daerah itu sendang. Mereka berencana mengangkat lumpur di sendang supaya air kembali bening karena air di sana berfungsi sebagai saluran air irigasi persawahan warga.
 
"Ini waduk kecil fungsinya untuk pengairan persawahan. Dikala membersihkan lumpur menemukan struktur batu bata, dan dibersihkan rupanya cukup dalam. Kita ke sana bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Jombang dan kepala desa setempat untuk mengamati lokasi," kata Wicaksono
 
BPCB belum dapat mengeskavasi atau meneliti lanjutan sebab sendang tertutup air. Aparat desa dan warga kemudian menyedot air dengan mesin diesel supaya web tampak lebih terang serta mempermudah penelitian.
 
Menurut penampakan sementara, permukaan bangunan itu sepanjang 4,5 meter dan tampak sedikit lengkungan bukaan selebar separuh meter. "Hanya ini sangkaan dari atas sendang belum secara detil. Ini masih dapat panjang lagi (saluran)," tutur Wicaksono.
 
BPCB datang ke lokasi untuk mengamati dan mendata hasil penemuan kreatif di zona web. Kemudian memutuskan apakah benar benda purbakala yang memenuhi elemen cagar tradisi. Juga mengamati bentuk web dan mengkaji fungsi bangunan serta memperkirakan dibangun pada abad keberapa atau peninggalan kerajaan apa.
 
"Sebab tadi di struktur ada di bawah sendang, kita butuh waktu enam jam untuk menguras. Hasilnya kita putuskan hari ini kita ulangi sebab warga desa juga bakal ikut serta menguras air. Mereka antusias banget, dan kepala desa sungguh-sungguh antusias, sebab kebetulan ini tanah kas desa, mau ini web dan dapat diwujudkan sebagai tamasya," kata Wicaksono.
 
Sumber mata air itu memang disakralkan oleh warga sebab usianya yang cukup tua. Letaknya berada di tengah zona persawahan penuh dengan pohon besar. Lokasinya satu kilometer dari permukiman warga. Infonya debit air tidak pernah berkurang, air konsisten bening, padahal kemarau.
 
Hasil wawancara BPCB dengan warga, masyarakat setempat selama puluhan tahun tak mengenal ada struktur batu bata. Malah warga juga tak mengenal pasti apakah sumber air berasal dari lorong yang diduga mirip saluran ke pentirtaan.
 
"Ini dapat seperti lorong untuk menyalurkan air lazimnya berhubungan bangunan pentirtaan. Di web-web lain juga ditemukan semacam ini yang mengarah ke pentirtaan. Paling penting ini sumber air dari mana mengalir ke mana. Mestinya ada bangunan besar, tetapi kita masih menemukan bangunan kecilnya saja," ujar Wicaksono.
 
Dugaan sementara, bangunan ini adalah peninggalan era Kerajaan Majapahit. Karena, ukuran dimensi batu bata menyerupai di cagar tradisi nasional Trowulan, Mojokerto. Tetapi, BPCB masih berupaya menggali penemuan kreatif lepas. Seperti potongan guci, keramik atau tembikar yang dapat diselidiki dari masa berapa pelaksanaan pembuatannya.
 
 
 
Kunjungi Juga Halaman Lainnya : Harga Besi Beton
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Kamis, 04 Juli 19 - 17:43 WIB
Dalam Kategori : ERA MAJAPAHIT
Dibaca sebanyak : 391 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback